Menyingkat ucapan salam, malah melakukan penghinaan…
Hari ini, seluruh umat Islam merayakan Tahun Baru Hijriah 1429…
Sehubungan dengan itu, sejak kemarin HP saya mulai menerima ucapan-ucapan selamat tahun baru dari rekan-rekan…
Tidak ada yang salah sih dari ucapan-ucapan itu, cuman setelah melihat lebih detail, mungkin karena kapasitas sms yang terbatas (hanya 160 karakter kalau ingin mengirim dalam 1 pesan saja), sebagian dari sms itu menyingkan ucapan salam “Assalamu Alaikum” dengan 1 kata saja, yaitu “ass”
Saya yakin, seyakin-yakinnya bahwa tidak ada niatan yang buruk dari penggunaan kata tersebut, selain untuk mempersingkat ucapan saja, namun perlu juga kita ketahui bahwa dalam bahasa sms, email, milis dan lain-lain yang bukan merupakan bahasa resmi, pemaduan 2 atau lebih bahasa amat dimungkinkan. Jadi kata “ass” bisa dibaca dengan bahasa Indonesia (yang tidak punya arti, malah singkatan tersebut tidak ada dalam kamus umum besar Bahasa Indonesia) atau bisa juga dibaca dengan menggunakan Bahasa Inggris.
Nah, kalau dibaca dengan menggunakan Bahasa Inggris, silakan lihat artinya disini: http://www.kamus.net/result.php?w=en-usa&q=ass&submit=Search&e=0
Oleh sebab itu, mari mulai membiasakan tidak menyingkat salam. Tidak terlalu rugi kok memperpanjang dari “ass” menjadi “Assalamu Alaikum” , hanya menambah 14 huruf saja, dan masih ada 143 karakter lainnya yang bisa digunakan untuk menuliskan pesan yang diinginkan.
Salam adalah doa, dan doa adalah ibadah. Jangan pelit dalam beramal dengan menyingkat doa sehingga malah tidak berarti apa-apa…
Yuk diinformasikan kepada teman-teman yang lain…
Tulisan terkait:
14 Comments
Other Links to this Post
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI





By Nhie, 10 January 2008 @ 06:20
assalamu alaikum wr wb ….
selamat tahun baru hijriayah pak…
By Dekisugi, 10 January 2008 @ 17:16
tenang aja..homonim, homograf, homofon. diingat2 aja itu
bahasa bali sama bahasa jawa, untuk kosakata yang sama, aja kadang artinya bisa bertolak belakang kok. halus di yang satu, kasar di yang lain, dan sebaliknya
artinya, ya jadi berpulang kepada siapa yang mengucapkannya dan maksud pengucapannya
semua toh kembali kepada niat
By khalidmustafa, 10 January 2008 @ 17:33
Setuju banget
makanya awal tulisan ini saya mulai dengan keyakinan bahwa yang menulis itu tidak memiliki niat yang buruk
cuman lebih sempurna saja apabila tidak disingkat. Agar lebih afdhal dan lebih dipahami maknanya tanpa harus berpikir lagi…
makasih banyak atas komentarnya…
By aRuL, 10 January 2008 @ 19:22
selamat tahun baru hijriah yah.. semoga kita bisa berhijrah ke kebaikan yg lebih kaffah.
kadang saya juga menegur teman2 yang menggunakan kata “ass” itu
By Fakhrurrozy, 11 January 2008 @ 04:02
Menurut saya, kadang bahasa itu juga menyingkap rasa sensitifitas pada diri seseorang. Pasti ada ukuran pantas atau tidak ketika akan berucap sesuatu. Perasaan menimbang itulah pada akhirnya yg akan melahirkan output kata yg lebih baik, walaupun rasa bahasa tiap orang pasti berbeda-beda dan ucapan salam dengan menyingkatnya menjadi ASS di atas sebenarnya tidaklah dilarang. Tapi bagaimanapun, sensitifitas berbahasa perlu terus di asah
Salam kenal Pak
By ery, 14 January 2008 @ 09:51
Assalamualaikum
Saya juga heran Pak. Yang lebih mengherankan, banyak yang menggunakan itu adalah jebolan skul di luar negeri. Kalau dari kerabat biasanya saya tegur. Saya sendiri kalau butuh disingkat saga gunakan aslm. Hanya lebih satu karakter, n No ass at all
.
Wassalam
By ebiotusif979, 26 February 2008 @ 13:26
Wah… Terima kasih sudah mengunjungi blog saya!
Ternyata benar tebakan saya, rupanya itu maksud terselubung, ya? Pasti ada oknum yang memulai pemakaian singkatan tersebut. Kasihan sekali orang-orang yang belum tahu!
By subpokjepang, 14 March 2008 @ 09:42
kebiasaan buruk, mudah-mudahan tidak saya ulangi lagi.
terima kasih pencerahannya.
By joeda, 20 June 2008 @ 11:14
Bismillahirrahmanirrahim.
Itu tidak akan terjadi kalau kita mengikuti sunnah Rasulullah. Salam kepada seseorang hanya disampaikan apabila mereka bertemu langsung atau bisa mendengarkan jawaban langsung dari mereka yang menerima salam. Dan kita disunnahkan mengulang salam sampai tiga kali apabila belum mendengar balasan dari mereka yang menerima salam. Untuk mengawali surat (Surat, SMS, Email dsb) cukup dengan ucapan basmallah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan sebagaimana pada QS. An-Naml ayat 30. Terimakasih.
By amril, 14 July 2008 @ 13:43
hahaha … kirain ada petunjuk utk jawab pertanyaan saya … tapi ok, iya juga seh kadang kita tidak sadar, dan ngikut kebiasaan aja, tapi sekali lagi tergantung pada niatnya … namun itu betul, bahwa harus ada orang yang jeli seperti khalid yang mengingatkan kita, bisa jadi dengan gaya yang kita pakai selama ini, tanpa disadari kita mengikis norma dan nilai islam itu sendiri … so, mari tinggalkan gaya sms yang menuliskan “ass” kalaopun mau disingkat mungkin diganti aja dengan A.A.W.W. atau bisa juga orang nulisnya AWW …
By ??????? ??????, 28 January 2010 @ 07:24
This topic is simply matchless
, it is very interesting to me.
By muhammad yasin, 19 April 2010 @ 15:51
mendingan jangan pakai salam, sbb nabi juga kalau mengirim surat pakai bismillah
By Suhardi, 2 May 2010 @ 20:14
Bahasa adalah sistem simbol. Setiap satuan bahasa (bunyi, kata, kalimat, dll.) terwujud karena konvensi pemakainya. Di balik setiap simbol ada makna/maksud. Hubungan antara simbol dan makna pun hasil konvensi. Relasi antara simbol dengan makna yang diwakilinya dibangun oleh konteks pertuturan (peristiwa pembicaraan). Sama seperti lampu lalu-lintas, jika yang merah menyala, konteks (sikon yang melingkupi) mengarahkan maksud ke ‘pengendara harus berhenti’. Pengendara tidak perlu menganalis makna/pemahaman lain di luar itu jika tidak ingin salah paham. Jadi kalau ‘ass’ sudah disimbolkan dengan ‘assalamu ‘alaikum …’, ketika penerima sms menerima pesan yang diawali ‘ass’ dan dalam konteks itu penerima pesan memahaminya dengan ‘assalamu ‘alaikum wr. wb.’ secara lengkap dengan segala maknanya. Maka maksud lengkap dari salam yang hanya disimbolisasikan dengan ‘ass’ itu pun sudah lengkap dipahami. Dengan sendirinya, doa yang terkandung dalam salam (walaupun cuma disingkat dengan ‘ass’ pun sampai). Konteks pertuturan (pengirim sms, penerima sms, isi sms) mengarahkan pemahaman kepada makna seperti yang dikandung dalam simbol yang lebih lengkap, yaitu ‘assalamu ‘alaikum wr. wb.’ Akhirnya, jika kita mencoba mengiterpretasi setiap simbol dalam komunikasi dengan mengesampingkan konvensi yang sudah terbentuk lewat konteks, maka kacaulah komunikasi kita.
By khalidmustafa, 3 May 2010 @ 07:15
@Suhardi, tetapi harus diingat bahwa simbol dalam bentuk bahasa, baik tulis atau terucap dibatasi dengan komunitas yang “sepakat” kepada simbol tersebut. Sebuah simbol yang bertujuan universal harus diterima oleh komunitas universitas juga.
Lampu lalulintas berwarna merah, di seluruh dunia sudah diakui sebagai simbol berhenti dan tidak perlu melakukan penafsiran apapun. Tetapi bahasa, harus memperhatikan simbol yang sifatnya universal, karena satu pemahaman dari pengirim tidak selalu berarti sama di sisi penerima.
Inilah mengapa kita harus berhati-hati dalam berbahasa.
Sebuah bahasa yang disampaikan secara luas, harus mengingat hal tersebut, seperti ucapan salam yang disingkat “ass”. Kalau disebarkan secara umum, misalnya milis atau sms broadcast, dan diterima oleh orang yang memahami bahwa “ass” disini seperti pengertian bahasa Inggris, maka maksud simbol tersebut tidak akan tercapai.
Oleh sebab itu, daripada menyingkat sesuatu sehingga menghilangkan makna aslinya, maka sebaiknya tetap dituliskan apa adanya.